BANDA NAIRA

IMG_3121

Banda Naira, puing sejarah di Laut Banda

Hambarnya makanan, telah memaksa pribumi Benua Biru menulis sejarah mereka di atas bumi Banda Naira…..

Selama kurang lebih dua ribu tahun lalu keharuman buah pala ( myristica fragrant ) telah menembus banyak benua. Setelah melintas lautan dan melewati berbagai jalur perdagangan kuno buah pala berhasil mendapat tempat sebagai rempah primadona.. Keharuman dan berbagai khasiat yang terkandung dalam buah pala telah menjadi daya tarik tersendiri berbagai bangsa di dunia. Mereka mencari jalan untuk menemukan sumber rempah – rempah yang konon, itu terletak di belahan timur bumi.
Pala dan fuli ( bunga pala )  memiliki sejarah yang panjang dan fantastis. Daya tarik dari rempah tersebut bukan saja karena dibutuhkan manusia dalam berbagai kepentingan, tetapi mampu membawa perubahan besar dalam sejarah dunia.
Demi rempah – rempah  kekayaan datang dan pergi, kekuasaan dibangun untuk kemudian dihancurkan. Selama ribuan tahun, selera akan rempah – rempah terbentang disekujur planet bumi dalam proses mengubah dunia.

Sebelum orang – orang Eropa mengenal rempah – rempah dari dunia timur, orang – orang India, Arab, dan China sudah memanfaatkan rempah – rempah terutama pala dan cengkih untuk berbagai keperluan.

Mengutip sebuah manuskrip Yunani :
Theophrastus (372-288 BC), menyebutnya comacum untuk  menggambarkan pala (kacang-kacangan yang berbau harum), dan mengatakan tidak datang dari India, tetapi  dari Arabia. Jenis lain dari Myristica, malabarica, di Malabar utara, kadang untuk mencampurkan dengan pala (Myristica fragrans) asli dari Banda.
Pliny (ca AD 50) percaya pala datang dari Syiria, yang mungkin telah menjadi tempat pala diproses menjadi minyak.

Bahkan berbagai kisah, cerita sampai legenda yang di tuliskan oleh para penjelajah samudera selalu di kaitkan dengan kepulauan Banda sebagai pulau terapung yang kaya
Dan pulau itu , mulai tersohor seharum buah pala………………

Banda Naira, di ambil dari kata BANDA merujuk pada nama awal WANDAN. Pada awal abad pertama masehi, China telah mengenal Banda dengan sebutan Wen-Tan. Umumnya orang lokal menyebutnya dengan nama ANDANSARI. Kata Andansari sendiri merupakan plesetan dari kata WANDAN SARI merujuk kepada seorang wanita cantik yang menjadi dayang dari Prabu Brawijaya di kerajaan Majapahit.

Bondan Kejawan adalah putra ke 14 Prabu Brawijaya, raja Kerajaan Majapahit terakhir dengan seorang Putri Wandan Sari, seorang dayang yang biasa melayani permaisuri Prabu Brawijaya, Dewi Dwarawati (Putri Campa).

Ketika putri Wandan Sari ini melahirkan anak dari benih Prabu Brawijaya, bayi tersebut diberikan kepada Ki Buyut Masahar dengan pesan agar bayi tersebut dilenyapkan. Prabu Brawijaya berpesan demikian, karena menurut ramalan para ahli nujum anak ini kelak akan membawa keburukan bagi Kerajaan Majapahit. Akan tetapi anak ini justru dipelihara oleh Ki Buyut Masahar.

Peta ini menggambarkan Wandan di Laut Banda telah menjadi bagian dari ekspansi Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk

Seiring runtuhnya Majapahit di tahun 1500 Masehi dan makin berkembangnya pengaruh Kerajaan Ternate mengubah Banda menjadi bagian dari Jazirah Al Mulk di bawah pengaruh Uli Lima / Orlima. Di sinilah awal WANDAN SARI berganti  menjadi BANDA NAIRA.

Banda merupakan potongan Bandan / Bondan dari Bondan Kejawen yang terlahir dari ibu seorang Putri dari Kepulauan Wandhan.

NAIRA, adalah nama seorang ratu yang memerintah di Kampung Ratu. Dia adalah bibi dari Raja pencetus berdirinya kerajaan Namasawar  kerajaan pertama di Banda Naira yang mendapat pengaruh kuat dari Ternate. Sebagai bentuk penghormatan atas bibinya, maka sang Raja menamai sebuah pulau yang menjadi dasar berdirinya kerajaan di Banda dengan nama NAIRA. Di sinilah kemudian kata BANDA & NAIRA mulai di gunakan lalu disandingkan menjadi BANDA NAIRA….

Al Mulk yang dalam bahasa Arab bermakna, Yang Maha Merajai. Kata Al Mulk kemudian disebarkan secara luas oleh para pedagang Timur Tengah yang pada saat itu berdagang di Maluku. Hal yang paling menonjol dari penyebutan Maluku sebagai Al Mulk, bahwa pada saat itu ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Ternate dan Tidore menyebabkan lahirnya kerajaan – kerajaan kecil di sebagian besar wilayah Maluku. Sehingga orang lebih mengenal Maluku dengan sebutan Jazirah Al Mulk.

BANDA NAIRA ” TANAH RAJA TANPA MAHKOTA

Kerajaan Ternate menanamkan pengaruh dan kontrolnya atas Ambon dan bagian barat pulau-pulau Seram. Pada abad ke-16 domonion Ternate akhirnya membentang dari Mindanao di utara hingga Flores di selatan, dari Sulawesi Utara (Manado, Gorontalo, dan kepulauan Sangir Talaud) hingga pantai timur Sulawesi Tengah (Kayeli, Tobungku, Banggai), dari pantai timur Sulawesi Selatan (Buton) hingga Seram Barat dan Banda. Kerajaan ini juga mulai mengobok-obok wilayah Kerajaan Jailolo, Loloda, dan Moro, yang berakhir dengan lenyapnya kerajaan-kerajaan tersebut dan menjadi bagian integral Kerajaan Ternate. Pada pertengahan abad ke-16, puncak kedigdayaan Ternate tercapai di masa pemerintahan Sultan Khairun (1535-1545) dan dari 1546-1570 serta Sultan Babullah (1570-1583). Sementara Tidore sebagai pesaing Ternate dalam ekspansi teritorial, membidik kawasan timur. Setelah menguasai hampir tiga perempat Halmahera dan Seram Timur, Tidore berhasil menguasai Kepulauan Raja Ampat, kemudian Papua Daratan dan menjadikan daerah daerah tersebut sebagai Vasalnya.

Masuknya Ternate ke Banda Naira, rupanya di sambut baik. Raja sangat menerima kedatangan Ternate di karenakan hubungan antara Kerajaan Banda dengan Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran semenjak Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan digantikan oleh putrinya Dyah Kusumawardhani yang didampingi oleh suaminya Wikramawardhana (1389–1429). Hayam Wuruk dengan isteri selir mempunyai anak Bhre Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (bupati) di Blambangan. Akan tetapi, Bhre Wirabumi menuntut takhta Majapahit sehingga menimbulkan perang saudara (Perang Peregreg) tahun 1401–1406. Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang saudara tersebut mengakibatkan lemahnya kekuasaan Majapahit.
Setelah Wikramawardhana meninggal (1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447.

Untuk mengakhiri kekuasaan Majapahit atas Kepulauan Wandhan                ( Banda Naira ), seorang utusan Majapahit bernama LELEKAY yang menjadi Raja di Pulau Ay sekaligus pengawas Kepulauan Wandhan ditantang perang oleh adik dari Raja Namasawar bergelar SYAIRUN. Syairun menantang duel Lelekay, dengan syarat bahwa jika Lelekay kalah maka ia harus menyerahkan kekuasaan atas Pulau Ay dan Rhun kepadanya. Syarat itu di terima oleh Lelekay. Dalam sejarah lokal Banda Naira, konon perang tersebut berlangsung selama 3 siang 3 malam. Duel berlangsung seru, Lelekay pun akhirnya menyerah di tangan Syairun. Lelekay berpesan, bahwa untuk dapat membunuh dirinya maka Syairun harus memotong tubuhnya menjadi 4 bagian Kepala, tangan, badan dan kaki. Semua potongan tubuh tersebut harus di letakan terpisah di pulau – pulau sekitar, jika tidak maka Lelekay akan hidup kembali. Pesan tersebut dilaksanakan oleh Syairun. Setelah memotong Lelekay menjadi 4 bagian, kepalanya di letakan di pulau Swanggi / Manukang, badannya di letakan di tengah pulau Ay. Tangannya di buang ke laut dan kakinya di letakan di pulau Nailakka.Setelah kematian Lelekay, maka Syairun memerintah hingga terjadinya peristiwa Banda Berdarah  di Banda Naira 1621……

Raja Namasawar yang berkedudukan di Kampung Adat Namasawar               ( Kampung Negri ) adalah raja pertama sekaligus pendiri lahirnya kerajaan – kerajaan kecil lainnya di Banda Naira. Raja Namasawar berjulukan Maulana Qun Fayaqun dalam Islam bermakna ” Jadi maka jadilah ia “. Julukan ini merujuk pada berkembangnya Banda Naira sebagai bandar pelabuhan di Timur Jauh sebagai penghasil pala dan fuli yang kemudian membawa para pedagang Timur Tengah terutama Persia yang beragama Islam ke Banda Naira dan menyebarkan agama. 

Kerajaan pertama di Banda Naira, di perkirakan telah ada pada abad ke 10 Masehi. Hal ini dapat di buktikan dengan bekas Kota Banda yang terletak di sepanjang pantai Malole hingga bukit Latar di sekitar Bangko Batu. Laju pertumbuhan penduduk dan perluasan wilayah, mengakibatkan Kota Banda kemudian ditinggalkan dan berpindah ke bagian dalam teluk dari Pulau Naira. Ketika, Banda Naira mulai ramai dari para pedagang yang datang mencari rempah – rempah terutama pala dan fuli maka Raja memerintahkan untuk membangun bandar dagang. Sampai akhir abad ke-13, rempah-rempah Maluku – dalam kebanyakan kasus – hanya diperdagangkan ke Ambon dan Banda oleh para pedagang lokal. Para pedagang Jawa dan Melayu kemudian membawanya dari Ambon atau tepatnya Hitu, dan Banda, ke pelabuhan Gresik, Tuban, Pasai dan Malaka. Tetapi, para pedagang Hitu dan Banda ketika itu juga membawa rempah-rempah Maluku ke pelabuhan-pelabuhan Jawa Timur dan Malaka. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 tidak mempengaruhi dan menyurutkan keramaian perniagaan rempah rempah di daerah ini.

Perdagangan rempah-rempah adalah salah satu bisnis yang cukup tua dan paling menguntungkan. Sekitar 350 SM, pedagang-pedagang Cina telah melakukan perniagaan rempahrempah sampai ke India, Sri Lanka dan pantai timur Afrika. Rempah-rempah yang diperdagangkan meliputi merica yang berasal dari India, kayu manis dari Cina dan Birma.
Malaka adalah bandar internasional utama perdagangan rempah-rempah sampai awal abad ke-16. Dari Malaka, rempah-rempah dibawa ke India dan Cina. Dalam abad pertengahan, sejak zaman keemasan Mogul di bawah Kubilai Khan, perdagangan rempah-rempah mulai dilakukan melalui jalan darat. Karavan-karavan onta membawa muatan melalui jalur sutera (silk road) yang menghubungkan Cina dan Timur Tengah.
Dari sana, muatan di bawa dengan kapal ke pelabuhan-pelabuhan di Venesia. Kemudian rempahrempah diangkut dari sini melalui darat ke Damaskus dan Aleppo di Mediterranian. Ketika orangorang Turki menguasai daerah ini pada pertengahan abad ke-15, rute perniagaan dialihkan ke Laut Merah, tetapi tetap dipegang para pedagang Muslim Gujarat dan Cambay di barat laut India,serta pedagang Muslim Mamluk dari Mesir. 7 Orang Yunani kemudian mematahkan dominasi pedagang Muslim. Transportasi rempah-rempah melalui jalur darat ternyata beresiko tinggi. Selain harus berhadapan dengan para perampok, para pedagang yang menempuh jalur ini harus mengeluarkan biaya tinggi untuk membayar pungutan di sepanjang jalur tersebut. Orang-orang Partian yang mendiami kawasan sepanjang jalur niaga rempah-rempah memungut pajak atas setiap orang yang melewati daerahnya. Akibatnya, sesampainya rempah-rempah di Eropa, harga jualnya melambung tinggi dan sangat mahal.
Pada awal abad ke-15, Portugis di bawah Henry the Navigator memulai upaya mencari negeri asal rempah-rempah melalui jalur laut. Pada 1488, Bartholomeus Diaz mengelilingi Afrika dalam upaya pencarian tersebut. Satu dekade kemudian, Vasco da Gama melakukan pencarian yang sama dan berhasil mencapai India. Tetapi, sebegitu jauh, ia belum berhasil memperoleh rempah-rempah Maluku. Portugis kemudian menempatkan Raja Mudanya di sini. Sementara orang Italia yang mencoba berlayar ke India melalui Laut, juga menemui kegagalan.
Di India, Raja Muda Portugis, Laksamana Alfonso d’Albuquerque menyusun rencana untuk mengontrol semua jalur perdagangan internasional. Ia kemudian berhasil menguasai Goa di pantai Barat India pada 1510, dan setahun kemudian merebut Malaka (1511), menyusul Hormuz pada 1515. Hanya Aden, pelabuhan di Laut Merah, yang tidak berhasil ditaklukkannya. Setelah Malaka dikuasai, d’Albuquerque mengirim de Abreu dan Francisco Serrao dengan  armada yang terdiri dari tiga kapal ke Maluku pada Desember 1511. Dalam bulan Januari 1512, mereka tiba di Banda. Setelah beberapa waktu di Ambon, karena mengalami ketidakberuntungan dengan karamnya kapal yang ditumpangi, Serrao dijemput utusan Sultan Ternate dan dibawa ke Ternate pada awal 1512.
Tahun 1512 merupakan awal sejarah perdagangan rempah-rempah yang panjang dan penuh konflik antara sesama kerajaan Maluku ataupun antara kerajaan-kerajaan di Maluku dengan orang-orang Eropa serta antara sesama orang Eropa. Konflik-konflik ini terutama dilatari kehendak untuk memperebutkan rempah-rempah dan perniagaannya atau untuk mendapatkan hak monopoli atasnya. Konflik-konflik yang berkepanjangan dan rumit, yang terjadi pada masa-masa selanjutnya, tidak hanya merambat ke dalam kehidupan sosio-kultural dan keagamaan, tetapi juga menggembosi dan meludeskan kedaulatan serta kemerdekaan kerajaan-kerajaan Maluku.
Sementara itu, setelah Colombus berlayar ke Amerika, beberapa penjelajah Spanyol mencoba melakukan pelayaran ke India lewat rute barat. Pada 1513, Balboa mengarungi selat Panama dan melihat samudera Pasifik. Tetapi, upayanya ke India tidak berhasil. Percobaan serupa dilakukan Magellan pada 1519. Ia yakin dapat mengelilingi Amerika Selatan, dan akhirnya berhasil mendarat di Filipina pada 1521. Walaupun Magellan terbunuh di negeri ini dalam suatu pertempuran dengan penduduk lokal, anak buahnya berhasil mencapai Tidore pada tahun itu juga (1521) dan kembali ke Spanyol dengan muatan rempah-rempah.

Tentang Banda Naira itu sendiri, dengan gamblang seorang kelasi Portugis menulis dalam buku harian perjalanan kapal “

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

 

KUTUKAN MYRISTICA FRAGRANS

Thome Pires, ketika bertemu pedagang-pedagang bangsa Melayu menyatakan, Tuhan telah menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk Pala serta Maluku untuk cengkih, dan barang dagangan ini tidak dikenal di tempat lain di dunia ini kecuali di tempat-tempat tadi; dan telah saya tanyakan dan selidiki dengan teliti apakah barang ini terdapat di tempat lain, dan semua orang katakan tidak.
Buah Pala ( myristica fragrans ) merupakan tanaman endemik kepulauan Banda. Buah Pala tumbuh subur dengan komposisi tanah sisa abu vulkanik dan curah hujan +/- 3000 mm per tahun. Selama ratusan tahun keharuman buah pala telah menembus berbagai belahan bumi menarik minat para penakluk, untuk menjejakan kaki.

Dalam legenda Banda Naira, buah pala adalah mahar dari seorang Pangeran yang berjulukan Kapitan Timur ketika ia melamar putri Cilubintang anak seorang bangsawan Banda. Konon, Kapitan Timur yang jatuh hati kepada Cilubintang berusaha untuk menikahinya. Sebagai mahar, Cilubintang meminta 99 pohon pala. Kapitan Timur menyanggupi mahar tersebut. Setelah lama berkeliling, akhirnya pohon pala itu di temukan. Ia lantas menyerahkan 99 pohon pala kepada Cilubintang dan memastikan waktu untuk melangsungkan pernikahan. Namun, sebelum memasuki waktu pernikahan Kapitan Timur telah meninggal. Dan mahar itu akhirnya di sebar di seluruh kepulauan Banda.

Buah Pala menghasilkan biji pala dan fuli adalah komoditas primadona yang di perjualbelikan sepanjang Jalur Sutera….. bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s